Anak-anak kelas 8d gubrak karena
mendengar cerita itu, Pak Suep yang sedari tadi mengajar Bahasa Arab
juga tak kalah hebohnya.
“Ada anak kesurupan di kamar mandi Pak.” ujar salah seorang
muridnya.
“Bawa ke uks segera, lapor pada pihak sekolah yang lain supaya
memberi tahu orang tua dan keluarganya” perintah Pak Suep.
Tanpa membantah, dalam sedetik siswa itu telah lenyap entah lari
kemana.
Siswa yang beritanya kesurupan itu adalah Nuha anak kelas 8d,
memiliki wajah yang di gandrungi para teman perempuannya, selain
cakep dia juga pandai, beberapa piala telah di borongnya dalam
mengikuti perlombaan, yah dia menjadi salah satu wakil sekolah yang
berhasil mengharumkan nama sekolahnya.
Namun, berita mengejutkan itu membuat hati para teman-temannya
pilu, ikut merasa sakit.
Setelah suasana tenang, Nuha di antar pulang oleh pihak sekolah,
orangtuanya menyambutnya dengan isakan tangis yang mencerminkan
betapa teririsnya hati mengetahui putranya kesurupan.
Di gotongnya Nuha menuju kamarnya yang hanya berukuran 3x3m, dia
tertidur lemas.
Mega mendung saat itu telah
menyelimuti langit, yang membuat suasana malam semakin mencekam.
Badan Nuha semakin panas, dia kejang dan detak jantungnya amat di
luar batas, dan matanya begitu merah menyala. Itu bukan Nuha!!!!
Pak Soleh menyuruh istrinya mengambil segelas air putih, di
jampi-jampinya air itu lalu di usapkan pada muka nuha, dan
meminumkannya. Memang tak lama kemudian kejangnya berhenti. Namun
kejang dalam semalam itu tak hanya terjadi 2 sampai 3 kali, melainkan
lebih. Orang tuanya segera membawanya ke Puskesmas terdekat di
kecamatan itu. Dan pihak Puskesmas menolaknya karena tak mampu
menangani pasien yang membutuh perawatan gawat darurat.
Nuha segera di larikannya ke Rumah Sakit, ia masuk ruang UGD.
Dokter memutuskan untuk memasang alat pendeteksi jantung yang
mengharuskan pasien telanjang dada, tak ketinggalan juga alat bantu
pernafasan.
Sungguh tidak di sangka kejadian di sekolah akan berakibat seperti
ini.
Ketika semua telah baik, emaknya
menyuruh pak soleh pulang untuk bertanya pada orang yang lebih tua.
Hujan mengiringi pak soleh menuju rumahnya, tanpa menunggu lama
ia pergi ke rumah ki ageng sulaman , seorang yang dikenal di
daerahnya sebagai dukun.
Di ceritakannya kejadian itu dari awal sampai akhir. Ki ageng
sulaman mencoba menerawang apa yang terjadi.
“Anakmu kesambet lelembut di daerah sungai dekat rumahmu,
lelembut itu tidak hanya satu melainkan tiga, dan di dalam rumahmu
juga ada lelembut yang melindungimu karena kamu menyimpan sebuah
keris yang amat sakti” ujar ki ageng sulaman.
Yaa, memang pak soleh menyimpan
benda-benda yang di yakininya mempunyai kekuatan, dia juga suka
dengan hal-hal yang mistis, sehingga kini anaknya yang menjadi
korban dari ulahnya sendiri.
Nuha tidak mengetahui apa-apa namun ia yang harus menanggung apa
yang telah bapaknya lakukan.
Beberapa dukun mengatakan hal yang sama dengan apa yang di katakan
ki ageng sulaman, mereka tak mampu mengusir lelembut yang masih
menempel di tubuh nuha.
Nuha kini keluar masuk rumah sakit, penyakitnya memang keras. Ia
di vonis dokter mengidap penyakit jantung. Namun dukun-dukun tetap
mengatakan kalau Nuha kesambet setan.
Pak Soleh menuju ruang apotik, ia meminta obat. Pihak Rumah
Sakit tidak memberikan obat yang di butuhkan itu.
“Berapapun akan ku bayar, anakku butuh obat itu segera” ujar
pak soleh.
“Maaf pak,kita kehabisan obat itu, bapak bisa mencarinya di
apotik luar” kata penjaga apotik.
Dengan langkah lemas dan letih pak soleh kembali ke bangsal
anaknya.
“Aku tak mendapatkan obat itu”
“Terus bagaimana,apa harus mencari obat di apotik luar???”
“Aku akan berusaha”
Memang keluarga pak soleh termasuk keluarga yang kurang mampu,
nuha masuk rumah sakit juga memakai askeskin. Mungkin pihak
rumah sakit enggan memberikan obat yang di butuhkan nuha lantaran
biaya yang mungkin tak mampu di lunasinya.
Lelaki paruh baya itu menyusuri
jalanan kota dengan berjalan kaki, saat itu ia sedang puasa namun
demi anaknya ia rela melakukan apa saja.
Berkali kali ia memasuki apotik, tetap saja tidak di temukannya
obat itu. Tak menyerah pak soleh terus berjalan.
Sudah hampir 12km ia berjalan, akhirnya ia mendapatkan obat yang
di carinya. Segera ia kembali ke bangsal nuha.
Saat petang datang, pak soleh kembali
ke rumah. Nuha di tunggu oleh emak dan budenya.
Pak soleh di sarankan untuk membuang semua benda-benda simpanannya
yang berakibat buruk pada nuha.
Para tetangga juga sedih melihat keadaaan nuha yang
memprihatinkan, apalagi melihat mak atik yang terus menangis, tetesan
air yang membelah pipinya dan membuat mata sembab.
“Nuha di perbolehkan pulang, dan harus control 2 kali dalam 1
minggu”. kata dokter tita.
Yaa, kini keadaan nuha cukup baik. Esok ia akan pulang.
Keluarga dan para tetangga ikut senang ketika nuha tiba di
rumahnya. Ia begitu di manja,maklum keadaan yang membuatnya begitu.
Namun kini tampak perubahan di jiwa
nuha, ia seperti orang pelupa, sering senyum sendiri, yaah kini ia
tidak wajar seperti dulu lagi.
Ada pesan dari rumah sakit, bahwa nuha harus control tidak hanya
di rumah sakit itu, namun juga di rumah sakit jiwa. Mungkin
ada beberapa saraf yang tidak normal lagi.
Harusnya nuha kini telah lulus,namun karena kejadian di kamar
mandi itu yang membuatnya ia berubah.
Nuha tak dapat menyalahkan siapa-siapa termasuk bapaknya, semua
itu terjadi di luar keinginan mereka.
Bapaknya kini menyesal karena telah menyimpan barang-barang yang
di yakininya mempunyai kekuatan gaib,dan menyimpang di kampungnya.
Kini semua tak seperti dulu lagi.
