Jumat, 02 September 2011

Mengapa Harus Aku????

Anak-anak kelas 8d gubrak karena mendengar cerita itu, Pak Suep yang sedari tadi mengajar Bahasa Arab juga tak kalah hebohnya.
“Ada anak kesurupan di kamar mandi Pak.” ujar salah seorang muridnya. “Bawa ke uks segera, lapor pada pihak sekolah yang lain supaya memberi tahu orang tua dan keluarganya” perintah Pak Suep. Tanpa membantah, dalam sedetik siswa itu telah lenyap entah lari kemana. Siswa yang beritanya kesurupan itu adalah Nuha anak kelas 8d, memiliki wajah yang di gandrungi para teman perempuannya, selain cakep dia juga pandai, beberapa piala telah di borongnya dalam mengikuti perlombaan, yah dia menjadi salah satu wakil sekolah yang berhasil mengharumkan nama sekolahnya. Namun, berita mengejutkan itu membuat hati para teman-temannya pilu, ikut merasa sakit. Setelah suasana tenang, Nuha di antar pulang oleh pihak sekolah, orangtuanya menyambutnya dengan isakan tangis yang mencerminkan betapa teririsnya hati mengetahui putranya kesurupan. Di gotongnya Nuha menuju kamarnya yang hanya berukuran 3x3m, dia tertidur lemas.
Mega mendung saat itu telah menyelimuti langit, yang membuat suasana malam semakin mencekam. Badan Nuha semakin panas, dia kejang dan detak jantungnya amat di luar batas, dan matanya begitu merah menyala. Itu bukan Nuha!!!!
Pak Soleh menyuruh istrinya mengambil segelas air putih, di jampi-jampinya air itu lalu di usapkan pada muka nuha, dan meminumkannya. Memang tak lama kemudian kejangnya berhenti. Namun kejang dalam semalam itu tak hanya terjadi 2 sampai 3 kali, melainkan lebih. Orang tuanya segera membawanya ke Puskesmas terdekat di kecamatan itu. Dan pihak Puskesmas menolaknya karena tak mampu menangani pasien yang membutuh perawatan gawat darurat. Nuha segera di larikannya ke Rumah Sakit, ia masuk ruang UGD. Dokter memutuskan untuk memasang alat pendeteksi jantung yang mengharuskan pasien telanjang dada, tak ketinggalan juga alat bantu pernafasan. Sungguh tidak di sangka kejadian di sekolah akan berakibat seperti ini.
Ketika semua telah baik, emaknya menyuruh pak soleh pulang untuk bertanya pada orang yang lebih tua.
Hujan mengiringi pak soleh menuju rumahnya, tanpa menunggu lama ia pergi ke rumah ki ageng sulaman , seorang yang dikenal di daerahnya sebagai dukun. Di ceritakannya kejadian itu dari awal sampai akhir. Ki ageng sulaman mencoba menerawang apa yang terjadi. “Anakmu kesambet lelembut di daerah sungai dekat rumahmu, lelembut itu tidak hanya satu melainkan tiga, dan di dalam rumahmu juga ada lelembut yang melindungimu karena kamu menyimpan sebuah keris yang amat sakti” ujar ki ageng sulaman.
Yaa, memang pak soleh menyimpan benda-benda yang di yakininya mempunyai kekuatan, dia juga suka dengan hal-hal yang mistis, sehingga kini anaknya yang menjadi korban dari ulahnya sendiri.
Nuha tidak mengetahui apa-apa namun ia yang harus menanggung apa yang telah bapaknya lakukan. Beberapa dukun mengatakan hal yang sama dengan apa yang di katakan ki ageng sulaman, mereka tak mampu mengusir lelembut yang masih menempel di tubuh nuha. Nuha kini keluar masuk rumah sakit, penyakitnya memang keras. Ia di vonis dokter mengidap penyakit jantung. Namun dukun-dukun tetap mengatakan kalau Nuha kesambet setan. Pak Soleh menuju ruang apotik, ia meminta obat. Pihak Rumah Sakit tidak memberikan obat yang di butuhkan itu. “Berapapun akan ku bayar, anakku butuh obat itu segera” ujar pak soleh. “Maaf pak,kita kehabisan obat itu, bapak bisa mencarinya di apotik luar” kata penjaga apotik. Dengan langkah lemas dan letih pak soleh kembali ke bangsal anaknya. “Aku tak mendapatkan obat itu” “Terus bagaimana,apa harus mencari obat di apotik luar???” “Aku akan berusaha” Memang keluarga pak soleh termasuk keluarga yang kurang mampu, nuha masuk rumah sakit juga memakai askeskin. Mungkin pihak rumah sakit enggan memberikan obat yang di butuhkan nuha lantaran biaya yang mungkin tak mampu di lunasinya.
Lelaki paruh baya itu menyusuri jalanan kota dengan berjalan kaki, saat itu ia sedang puasa namun demi anaknya ia rela melakukan apa saja.
Berkali kali ia memasuki apotik, tetap saja tidak di temukannya obat itu. Tak menyerah pak soleh terus berjalan. Sudah hampir 12km ia berjalan, akhirnya ia mendapatkan obat yang di carinya. Segera ia kembali ke bangsal nuha.
Saat petang datang, pak soleh kembali ke rumah. Nuha di tunggu oleh emak dan budenya.
Pak soleh di sarankan untuk membuang semua benda-benda simpanannya yang berakibat buruk pada nuha. Para tetangga juga sedih melihat keadaaan nuha yang memprihatinkan, apalagi melihat mak atik yang terus menangis, tetesan air yang membelah pipinya dan membuat mata sembab. “Nuha di perbolehkan pulang, dan harus control 2 kali dalam 1 minggu”. kata dokter tita. Yaa, kini keadaan nuha cukup baik. Esok ia akan pulang. Keluarga dan para tetangga ikut senang ketika nuha tiba di rumahnya. Ia begitu di manja,maklum keadaan yang membuatnya begitu.
Namun kini tampak perubahan di jiwa nuha, ia seperti orang pelupa, sering senyum sendiri, yaah kini ia tidak wajar seperti dulu lagi.
Ada pesan dari rumah sakit, bahwa nuha harus control tidak hanya di rumah sakit itu, namun juga di rumah sakit jiwa. Mungkin ada beberapa saraf yang tidak normal lagi. Harusnya nuha kini telah lulus,namun karena kejadian di kamar mandi itu yang membuatnya ia berubah. Nuha tak dapat menyalahkan siapa-siapa termasuk bapaknya, semua itu terjadi di luar keinginan mereka. Bapaknya kini menyesal karena telah menyimpan barang-barang yang di yakininya mempunyai kekuatan gaib,dan menyimpang di kampungnya. Kini semua tak seperti dulu lagi.